Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaInternasional

Indonesia dan Turkiye; Bahasa Inggris dan Kesenjangan Sosial

146
×

Indonesia dan Turkiye; Bahasa Inggris dan Kesenjangan Sosial

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

OneNewsNusantara|Turkiye-  Mayoritas warga negara Indonesia yang datang ke Turkiye sering kali berasumsi bahwa masyarakat Turkiye secara umum mahir berbahasa Inggris. Hal ini wajar mengingat Turkiye secara geografis terletak di wilayah Eropa dan memiliki sejarah panjang interaksi dengan bangsa-bangsa Barat. Selain itu, reputasi Turkiye sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan pada masa lalu dan sebagai salah satu negara maju saat ini memperkuat ekspektasi tersebut.

Namun, kenyataan di lapangan tidak demikian. Jarang sekali kita menemukan masyarakat Turkiye yang mahir berbahasa Inggris. Bahkan di lingkungan pendidikan tinggi, mahasiswa Turkiye yang fasih berbahasa Inggris pun relatif sedikit. Kurikulum mata kuliah bahasa Inggris di universitas-universitas Turkiye sebanding dengan tingkat kurikulum bahasa Inggris di sekolah dasar di Indonesia.

Example 300x600

Akibatnya, sebagian pelajar Indonesia yang pernah tinggal di Turkiye menganggap kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia lebih baik daripada masyarakat Turkiye. Meski begitu, data menunjukkan fakta yang berbeda. Berdasarkan survei EF English Proficiency Index dalam lima tahun terakhir, Turkiye secara konsisten berada di atas Indonesia dalam hal kemampuan bahasa Inggris. Pada survei tahun 2024, Turkiye menempati peringkat 65 dengan skor 497, sementara Indonesia berada di peringkat 80 dengan skor 468 dari total 116 negara yang disurvei.

Hasil survei ini mengejutkan banyak pelajar Indonesia di Turkiye, terutama karena mereka jarang bertemu masyarakat Turkiye yang fasih berbahasa Inggris. Namun, jika dilihat dari keseharian, penggunaan bahasa Inggris di Turkiye dan Indonesia sebenarnya serupa. Bahasa Inggris umumnya digunakan di lingkungan karir tingkat tinggi, kota besar, sektor pariwisata, dan sebagian dunia pendidikan. Tulisan dalam bahasa Inggris di tempat umum, seperti toko atau pusat perbelanjaan, juga jarang ditemukan di kedua negara.

Fenomena ini tidak lepas dari kesenjangan sosial. Berdasarkan data terakhir dari Bank Dunia, indeks gini (pengukur kesenjangan sosial) Turkiye berada di angka 44,4, sedangkan Indonesia di angka 36,1. Indeks gini di atas 40 menunjukkan tingkat kesenjangan sosial yang tinggi, meskipun angka Indonesia sedikit lebih rendah, namun tetap mengindikasikan tantangan yang signifikan.

Kesenjangan sosial menciptakan pembagian masyarakat ke dalam golongan-golongan tertentu berdasarkan keunggulan di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan kemampuan berbahasa asing. Orang-orang dengan ekonomi yang baik cenderung dapat mengakses pendidikan berkualitas yang menghasilkan sumber daya manusia unggul, sehingga kehidupan mereka pun lebih sejahtera. Sebaliknya, mereka yang kurang mampu memiliki akses terbatas terhadap pendidikan yang baik, sehingga kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup menjadi lebih sulit.

Kondisi ini juga terlihat pada pelajar Indonesia di Turkiye. Sebagian besar dari mereka berasal dari golongan yang terbiasa berada di lingkungan dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik di Indonesia. Ketika mereka berbaur dengan masyarakat Turkiye dari berbagai kalangan, wajar jika mereka merasa bahwa kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia lebih unggul. Padahal, kenyataannya, banyak masyarakat Indonesia, terutama di pelosok, yang tidak dapat berbahasa Inggris.

Data akumulasi secara keseluruhan justru menunjukkan bahwa masyarakat Turkiye memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik daripada masyarakat Indonesia. Fakta ini seharusnya menjadi perhatian bersama, mengingat pemerataan menjadi salah satu pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Dalam 10 tahun terakhir, indeks gini Indonesia konsisten berada di atas angka 35, menandakan kesenjangan sosial yang masih signifikan.

Prinsip “No one left behind” harus terus digaungkan sebagai bagian dari visi Indonesia menuju negara maju pada tahun 2045. Kesenjangan dalam berbagai aspek, seperti transportasi, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan, harus diminimalkan agar seluruh elemen masyarakat dapat merasakan kesejahteraan secara merata. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui kebijakan yang inklusif dan terjangkau adalah kunci untuk mencapai cita-cita tersebut.

Indonesia yang besar tidak akan menjadi negara maju jika hanya segelintir golongan yang memiliki sumber daya manusia unggul. Pemerataan menjadi tanggung jawab bersama yang harus terus diupayakan demi masa depan yang lebih baik.

Oleh Faiz Arhasy, Awardee Turkiye Burslari Scholarship)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *